Sumber: http://epuljapaneseblog.blogspot.com/2013/04/agar-postingan-blog-tidak-bisa-copy-paste-blok-klik-kanan.html#ixzz2YUuwt600>

Never Let You Go



To Readers
Hello readers, namaku laras. Aku punya hobi bikin cerita. Ada cerpen juga novel yang ujung-ujungnya nggak selesai-selesai juga. Dalam cerpenku kali ini, aku sengaja bikin cerpen dengan judul Never Let You Go. sesuai judulnya, cerpen ini menceritakan betapa sakitnya kehilangan orang yang kita sayang. Dan pasti kita tak ingin melepaskannya. Maka dari itu sob, jangan pernah sia-siakan orang yang kita sayang yang masih ada di samping kita. Pasti senyuman, tawa, dan tangis mereka sangatlah berarti bagi kalian. HAPPY READING ^^ ...







Never Let You GoBy Laras Kinasih


       Siang seterik ini, tak mengubah semangat Gita mengambil setumpuk buku diperpustakaan. Seakan tak ingin sedetik waktu terhembus sia-sia, dia cermati setiap untaian kata yang terdapat dalam setiap buku. Sejenak, ia teringat sebuah diary mungil pemberian sang bunda yang telah setahun meninggal. Dia mulai menulis untaian kata yang mewakili isi hatinya dan kejadian kejadian hari ini. Itu yang selalu ia lakukan setiap hari. Dia mulai menulis.
“Bunda, dalam hidupku kaulah kekuatanku. Dalam gelap, pancaran kasih sayangmu mengubah semuanya. Kini, hidupku tak lengkap tanpa dirimu. Seperti kupu-kupu tak bersayap, ku lemah bunda. Semangat hiduppun tak ada. Namun, ada ayah yang senantiasa membangkitkan semangatku. Kini ayah harus menjadi seorang ayah sekaligus ibu untukku. Ayah orang yang hebat bunda. Apalagi, selama ini ada Rendi yang membuat hidup Gita lebih berwarna…”
Seolah buku itu bisa menghubungkannya dengan sang bunda, dia terus mengutarakan perasaannya pada sebuah buku itu.
“Gita, ke kantin yuk!” ujar Rendi tiba tiba dari samping dengan nada berbisik.
“Lo ren? Ngapain lo disini? Gue kira, lo gak bakal nemuin gue disini.” Sahut Gita tanpa sedikitpun menoleh.
“yaelah git, gue kan selalu tahu dimana lo berada.” Pernyataan itu tak sedikitpun digubris Gita. Dia tetap fokus terhadap apa yang dia tulis.
“Nulis apaan sih git? Serius amat. Sampe-sampe gue lo cuekin.” Sahut Rendi penasaran, seraya mengintip apa yang sedang Gita tulis. Dengan sigap Gitapun menutup bukunya. Rendi mengerti, apa maksud dari sahabatnya itu.
“Udah yuk ke kantin.” Ucap Gita sambil tersenyum.
        Rendi adalah sahabat Gita sejak kecil yang selalu setia menemani dalam keadaan suka maupun duka. Bahkan, keluarga Hendrawan Dinata(ayah Gita), Rendi sudah dianggap anak oleh ayahnya. Apalagi, sejak bunda Gita meninggal, Rendilah pelarian amarah dan tangis Gita selain ayahnya.
         Mereka berjalan menuju kantin sekolah dengan penuh kejailan dari sifat Rendi yang humoris, dan lawakan Gita yang mengundang tawa.
 “eh git, selain lo pinter banget, lo juga berbakat loh jadi pelawak kayak Sule. Hahaha.” Ujar Rendi seraya mencubit pipi Gita.
 “ah, Rendi rese deh!” sambil menjulurkan lidahnya dan dibalas dengan juluran lidah dari Rendi. Hingga diikuti aksi kejar-kejaran .
 Di kantin, mereka tak lepas dari sorotan pandangan orang yang ikut tertawa dari kejauhan, yang tanpa sengaja mendengar dialog mereka berdua. Penghuni sekolahpun tak heran dengan kebiasaan mereka berdua itu.
 “hei makin rame aja ni bangku. Kita gabung ya?” ujar Dera seraya menduduki bangku kantin bersama Rava yang membawa makanan di tangannya. Dera dan Rava adalah teman sekelas Gita. Mereka juga menjadi bagian dari Gita dan Rendi.
 “hahaha, iya dong. Kalo gak rame, bukan kita namanya.” Sahut Rendi sembari mengunyah snack kesukaanya.
 “hahaha, makin hari makin harmonis aja persahabatannya.” Ujar Rava.
“iya nih entar jadi suka lagi hahaha.”  Lanjut Dera menggoda. Spontan Gita dan Rendi tersedak bersamaan. Dera dan Rava terheran melihatnya.
 “tuh kan, kesedaknya aja barengan hahaha.” Dera menjaili.
 “apaan sih, gue sama Gita ini sahabat dari kecil , jadi kagak ada tuh gitu-gituan. Ya gak Git?” ujarnya melawan hati yang sebenarnya, sembari merangkul pundak Gita. Jawaban itu menjadi sayatan bagi Gita. Padahal, jawaban itu bukanlah yang diinginkannya.
“emh, iya itu gak mungkin banget.” Ucap Gita kurang mantap.
“kayak kalian gak aja nih.” Lanjut Gita pada Dera dan Rava.
“Git, lo lupa yah? Gue sama Dera ini kan sepupuan git, jadi wajar lah.” Jawab Rava sembari menyeruput jus jeruk di hadapannya. Tak terasa bel berbunyi, mereka segera meninggalkan kantin dan masuk ke ruang kelas masing masing. Kantin yang tadinya berisik dan ramai berdesak-desakan, kini menjadi senyap.
“git, entar pulang sekolah, gue anterin yah. Jadi, gak usah minta jemput pak Ujang”.  Sahut Rendi.
“gak usah ah ren, entar gue mau mampir ke toko buku buat nyari bahan buat diskusi. Sorry ya ren.” Ucap Gita meminta maaf.
 “kalo Gita nolak, gimana kalo lo anterin gue ama Rava aja ren?hahaha” Goda Dera.
“yee enak aja. Gak ah, enak kalian dong. Git gak papa kok, entar gue anterin. Gue juga gak ada kerjaan di rumah.”
sejenak Gita berfikir. “oke deh, kalo lo maksa. Hehehe. Masuk dulu yah ren.” Pamit Gita
 “oke deh git.” Lalu Rendi berlalu. Gita,Rava dan Dera kembali ke kelasnya.
           Siang ini, Gita dan Rendi pergi ke toko buku. Disana mereka tak lepas dari kejailan. Rendi membantu Gita mencari buku yang dibutuhkannya.
 “git, emang lo mau nyari buku apa?” tanya Rendi.
 “buku kimia ren, gue bingung mau pilih yang mana.” Balas Gita. Lalu Rendi menghampiri susunan buku kimia sebelah utara dan meninggalkan Gita di belakangnya. Saat Rendi sedang membuka-buka buku, tanpa Rendi ketauhi, Gita sedang berjuang mempertahankan diri melawan sakit di kepalanya. Dia terus memegang kepalanya dengan keras. Hingga darah mengalir dari hidungnya, dan ia sumbat dengan saputang berwarnakan orange pemberian Rendi.
 “Git, ini kayaknya lengkap banget deh. cob..” Kata-kata Rendi terhenti melihat Gita tak ada di belakangnya. Lalu dia terkejut melihat sapu tangan  Gita jatuh berlumuran darah. Ternyata, saat Gita pergi, ia tak kuasa menahan sakit hingga sapu tangannya terjatuh. Rendi segera mencari Gita. Rendi berfikir, Gita pasti sedang ada di toilet. Ia menunggu Gita di depan kamar mandi wanita dengan muka cemas. Dia bingung apa yang terjadi dengan Gita. Dan dia takut hal yang tak diinginkan terjadi. Hingga tak lama kemudian munculah gadis dari dalam, yang membuat Rendi terkejut.
“hei”Sapa gadis itu . “lo?” ujar Rendi tak percaya.
 “gimana kabar lo? Lama gak ketemu.” Ujarnya sembari mengulurkan tangannya.
“baik.” Balas Rendi, ia masih tak percaya akan gadis di hadapannya itu.
“oh ya, gue juga sekolah di tempat lo ren.” Lanjut gadis itu dengan senyumannya yang manis..
“oh ya?”  Kini, Randy dan Tania asik mengobrol, tak sadar ia melupakan Gita.  Tania adalah teman semasa kecil Rendi yang belum diketahui Gita. Dari kejauhan, tanpa Rendi dan Tania sadari, Gita memandang mereka dengan senyuman ketir, dengan lumuran darah ditangannya. Gita berfikir, Rendi tidak mengkhawatirkannya. Dengan langkah gontai, dia segera melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
Keesokan paginya Gita datang tanpa Rendi, Ini hal yang jarang terjadi.Tanpa pikir panjang, Gita segera pergi ke kelasnya karena saat ini dia merasa sangat lelah. Sesampainya di kelas dia menelungkupkan kepalanya di bangku dan sepasang headset di telinganya melantuntan sebuah lagu  milik ‘Scandal band’ Haruna’ .
“git, lo sakit?” ujar Rava sembari melepaskan headset di telinga Gita sebelah kanan.
“emh, gak papa kok rav, lagi gak enak badan aja.” jawab Gita tanpa mengubah posisi.
“git, siapa tuh yang sama Rendi? Kayaknya anak baru deh.” Ujar Dera. Sedetik kemudian, Gita  menengadahkan kepalanya, dia tersontak saat mendapati sahabatnya dengan seorang gadis dari kejauhan.
“oh, jadi itu yang bikin dia nggak berangkat bareng gue.” batin Gita. Sesaat, tatapan Gita dan Rendi bertemu. Tiba-tiba, Rendi menarik tangan Tania dan berjalan ke arahnya.
 “Git, Dera, Rava kenalin ini Tania.” Ujar Rendi dan Taniapun mengulurkan tangannya dengan ramah. Dengan ragu, Gita membalasnya, sambil sedikit tersenyum.
“Anak baru ya ren? Kelas mana?” tanya Rava.


“iya, sebenernya dia temen lama gue. Tania satu kelas kok sama gue. Oh ya tan, Gita ini sahabat gue yang sering gue ceritain itu. Dan ini Dera ama Rava sahabat kita juga.” Jelas Rendi. Tania meresponnya dengan senyumannya yang manis.

“Git, maaf nih entar sepulang sekolah gue gak bisa nemenin lo pulang, gue mau nemenin Tania ke toko kaset . Maaf yah.” Pinta Rendi.
“no problem.” Sahut Gita enggan. Kekecewaan terpancar di wajah Gita. Kini bel masuk menyuruh mereka tidak melanjutkan perbincangan itu. Rendi dan Taniapun kembali ke kelasnya. Saat pelajaran dimulai, Gita diam tanpa kata. Seperti ada yang aneh pada diri Gita, Dera sadar, mungkin saat ini Gita hanya butuh ketenangan. Jadi, Dera putuskan untuk tidak mengintrogasinya saat ini. Dia berharap Gita baik-baik saja.
Jam istirahat tak mengubah perasaan Gita saat ini. Dia kembali menelungkupkan kepalanya di selah-selah tangannya. Dia berharap, otaknya dapat kembali segar menerima pelajaran yang akan datang.
“git, istirahat yuk!” ajak Rava.
“males rav.” Jawabnya singkat. Lalu Rava mengisyaratkan kepalanya kepada Dera untuk membujuk Gita.
“istirahat yuk git, entar lo laper lagi.” Bujuk Dera. Gita hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa pikir panjang lagi, Dera menarik tangan Gita hingga ia terduduk kembali.
“ayolah git, temenin Rava dah. Gue ada perlu sama perpustakaan, buat memperpanjang pinjaman buku gue, jadi gue gak bisa nemenin lo berdua. Udah sana pergi.” Ujar Dera, dan Gitapun bangkit dari tempat duduknya mengikuti langkah Rava. Gita berjalan dengan keadaan lesu tak bersemangat. Mereka lewati jalan menuju kantin, dengan perasaan Gita yang kacau. Semua orang menatap langkah mereka dengan penuh keheranan. Di koridor utama, mereka bertemu Rendi bersama Tania. Segera Rava menggandeng tangan kanan Gita.
“hei ren, hei tan. Ren, gue boleh pinjem Gita bentar gak? Masalahnya dia lagi gak enak badan gitu, jadi gue mau ngajak dia ke katin buat ngisi tenaga dikit.” Ujar Rava, sontak mata Gita terbelalak lebar medengar ucapan Rava. Dengan posisi itu, Rendi mencoba melirik Gita yang ada disebelah Rava, dia terkejut melihat tangan Gita berada di genggaman Rava.
“okey, gak masalah. Lo bisa ajak Gita kapanpun lo mau biar dia gak kesepian!” Ujar Rendi kasar. Perkataan itu justru lebih membuat Gita kacau. Sahabatnya sedari dulu, kini acuh bila sahabatnya terluka. Mata Gita mulai berbinar,
“bagus deh udah ada Rava, jadi lo ada yang ngejagain disini git.” ujar Tania tiba-tiba. Satu tetes air mata, jatuh membasahi pipi Gita.
 Rava yang mengetahuinya, segera membawa Gita pergi dari tempat itu.
“oke ren, gue ke kantin dulu ya.” Ujarnya menggandeng Gita pergi. Beberapa detik kemudian, Rendi menoleh ke belakan melihat pungung mereka berdua yang menghilang di kerumunan banyak siswa.
‘Gita sakit? Sakit apa ya?kenapa dia juga cuek sama gue? Alah, mungkin perasaan gue doang’  batin Rendi kembali melangkah ke depan.
 “Rav, maaf gue pergi dulu.” Ucapnya sembari berlari meninggalkan Rava.
“Tapi git..” ucapan Rava terhenti melihat langkah Gita semakin jauh, ia sadar ia harus membiarkan Gita menenangkan diri.
      Gita berlari menuju taman belakang sekolah. Di bawah pohon besar yang rindang, ia sandarkan dirinya untuk membunuh mimpi buruk ini. Tapi ia sadar, ini bukanlah mimpi, ini dunia nyata yang lebih kejam. Seketika, kejadian setahun yang lalu, saat bundanya meninggalkannya untuk selamanya kembali dalam benak Gita. Air matanya kembali terurai, ia sangat rindu pada sang bunda.  Lalu, dia membuka sebuah foto semasa kecilnya bersama kedua orang tuanya. Dia tak kuasa, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu semasa dia SMP di rumah sakit, nafasnya kembali terengah.
“Gita.” Panggil pak Hendrawan ayah Gita. Saat itu, Gita sedang berbaring lemah di kamar rumah sakit Kasih Ibu. “sayang, Gita mau ya, dirawat di rumah sakit ini?” ujar bu Sandra bunda Gita. “kenapa Gita harus tinggal disini bun? Emang sakit Gita parah ya? Gita kan Cuma panas biasa.” Celoteh Gita. “Bukan gitu sayang, untuk sakit yang ini, Gita harus tinggal disini untuk sementara.” Ujar pak Hendrawan.
“yaaah, entar gimana sama Rendi dong? Entar dia nyariin Gita bun, yah.”
“nanti, bunda bilangin sama Rendi kalo Gita ada disini. Ya sayang?” Ujar bu Sandra dengan lembut.
 “tapi jangan bilang kalo Gita sakit parah ya bun! Nanti Rendi khawatir. Bilang aja Gitanya sakit biasa, jadi Rendi gak perlu jenguk Gita.”
“iya sayang.” Ujar bu Sandra dengan genangan air mata. Gita bingung, kenapa air mata bunda dan ayahnya tiba-tiba mengalir.
“bunda sama ayah kenapa? kok nangis? Gita sakit apa bun?” Gita mulai bertanya.
“Gita harus kuat ya sayang,Gita gak boleh putus asa.” Ujar pak Hendrawan.
“ayolah ayah, Gita kan udah gede. Emang Gita sakit apa?”  air mata  sang bunda kembali mengalir.
“Gita, sakit kanker otak nak.” Ujar bu Sandra  dan pak Hendrawan merengkuh Gita . Sontak, Gita terkejut, ait mata mengalir dari pelupuk matanya. Ia tak percaya, penyakit yang selama ini menyiksa dirinya adalah kanker otak.
“Gita harus percaya kalau Gita pasti cepet sembuh. Mangkanya, Gita harus dirawat disini selama 2 atau 3 hari. Selanjutnya, Gita bisa dirawat di rumah ya nak.” Ujar bu Sandra lembut sembari membelai rambut Gita yang tergerai lembut. Tak kuasa menahan, akhirnya Gita jatuh pingsan mendengarnya. Sejak itulah dia terus menerus melakukan pengobatan. Hingga sakit yang ia rasakan lambat laun mulai menghilang. Dia tak pernah mau bercerita kepada siapapun saja termasuk Rendi. Hanya keluarganyalah yang mengetahuinya. Dia tak mau melihat Rendi cemas karenanya.
Air matanya kembali terurai saat itu juga. ‘kenapa sakit ini kembali, disaat Rendi mulai ninggalin gue ?Dan gue fikir,gue yang bakal ninggalin dunia ini terlebih dahulu, bukan bunda.’ batin Gita sembari memeluk foto itu. Dari kejauhan, Dera dan Rava melihat kejadian itu, mereka segera menghampiri Gita.
“git, kenapa lo nangis?” ucap Dera menghapus air mata Gita.
“lo ada masalah Git?” tanya Rava. Spontan Gita memeluk Dera.
“der, maafin gue yah.” Dera melepaskan pelukannya. “maksud lo?” tanya Dera.
“Rava, Dera, maafin gue ya, kalo selama ini gue ada salah sama kalian. Gue gak mau ninggalin dunia ini dengan rasa bersalah.”
 “Git, lo ngomong apaan sih? Cerita deh apa yang sebenernya terjadi!” sahut Rava. Gita  menundukkan kepalanya, dan dia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi .
“tapi kalian harus janji untuk gak bilang ke siapa-siapa termasuk Rendi.” Pinta Gita.
 “jadi, Rendi gak tahu masalah ini?” tanya Rava. Gita menggeleng. Mereka mengerti apa maksud Gita.
Sepulang sekolah Gita pulang sendiri,dia merasa sakit di kepalanya tak tertahankan lagi, tapi dia mencoba sekuat tenaga untuk bertahan. Samar-samar ia melihat mobil Rendi melaju bersama Tania. Gita merasa, kini sahabatnya telah benar-benar berubah. Tak lama kemudian, Pak Ujang sang sopir datang menjemputnya.
Berbalut pakaian orange, dengan bando senada dia asik menonton sebuah tayangan TV favoritnya.
 “Gita, ada temen kamu tuh di depan. Katanya sih namanya Tania.” Ujar pak Hendrawan.
“Tania yah? Ngapain dia disini?” pak Hendrawan hanya mengangkat bahunya sembari duduk dan membaca kembali Koran yang sempat ditinggalkannya..
 “temui aja dulu sayang.” Ucap ayahnya lagi. Lalu Gita segera bangkit menghampiri Tania yang ada di ruang tamu.
“Tania!” ujar Gita.
 “hei git, maaf ya ganggu lo.” Balas Tania.
“iya gak papa, dari mana lo tahu rumah gue?” tanya Gita sembari menduduki kursi tamu.
 “emh, dari Rendi.” Jawabnya mengumbar senyum.
 “oh, ada apa lo ke sini? Tumben.” Sahut Gita sedikit ketus.
“enggak, gue cuman pengen ngobrol aja ama lo. Oh ya, ternyata sekarang Rendi banyak berubah ya, makin humoris. Dia selalu bikin gue ketawa, nyenengin lagi. kayaknya, dia itu sahabat yang baik deh?”
“oh ya?” balas Gita mengangkat kedua alisnya.
 “iya, kemaren aja dia ngajak gue ke Ancol. Sumpah dia konyol banget kalo ngelawak. Dia beda sama yang dulu, kalo dulu sih dianya cerewet, bandel, nyebelin lagi. Sekarang udah ada kemajuan.  Trus dia juga bilang gue yang cerewet. Trus, dia juga manggil-manggil gue pakek monyet kecil lagi, kan nyebelin.”  Cerocos Tania sambil sedikit tersipu.
‘monyet kecil?’ batin Gita. Karena julukan itu hal yang biasa dipakai oleh Rendi hanya untuknya. “trus dia jug..” kata-kata Tania terpotong oleh omelan Gita yang bangkit dari tempat duduknya.
“lo kesini mau ngobrol atau mau curcol sih? Genit amat jadi cewe. Seharusnya lo nyadar dong, siapa yang lo ajak bicara. Mending sekarang juga lo pulang deh! Dan samperin tuh sahabat baru lo!”  omel Gita dan berlalu masuk. Dia merasa Tania hanya ingin membuatnya ‘jeolus’ pada sahabatnya, Rendi. Taniapun tertegun mendengar ucapan Gita. Pak Hendrawan yang melihat kejadian itu meminta maaf kepada Tania karena sikap Gita.
Keesokan harinya, Gita kembali berangkat sendiri, dengan keadaan pucat tak bersemangat seperti biasa.
“Gita, lo kok makin pucat sih? Ke UKS yuk!”ujar Dera yang menghampirinya.
 “gak ah, gak papa kok . Aku baik-baik aja.”
 “baik-baik gimana, orang kayak mau ka’o gini .Udah yuk ke UKS.” Sahut Rava tiba-tiba dari belakang.
“iya deh, makasih ya rav,der. Kalian sahabat-sahabat gue yang selalu nemenin gue dalam keadaan apapun.” Rava dan Dera menanggapinya dengan senyuman. Lalu mereka membawa Gita ke ruang UKS. Dera membawakan teh hangat untuk Gita yang berbaring di tempat tidur.
 “eh git, lo sama Rendi ada apa sih akhir-akhir ini?  Berangkat sendiri, ke kantin sendiri. Biasanya kalian kan selalu barengan?” tanya Rava.
“gue gak tau! Mungkin, Rendi udah gak butuh gue lagi. gue kan temennya yang paling nyebelin.”  Tandas Gita acuh dan sedikit ketus.
“nyebelin gimana git? lo bo’ong ya?” ujar Dera. Gita hanya mengangkat pundaknya.
“Git, dua tahun kita sekelas, lo ada rasa gak sama gue?” tanya Rava spontan. Semua memandang terkejut.   “maksud lo rav?” tanya Gita nggak ngerti.
“lo ada rasa gak sama gue?” tanya Rava sekali lagi. Sebuah senyuman merekah dibibir Gita. “meskipun ada rasa, tapi bukan rasa suka. Rasa itu rasa sayang karna lo sahabat gue rav. lo yang slalu nemenin gue, lo kasih perhatian sama gue, ngerelain apapun demi gue, kalian berdua itu sahabat gue. Karena  sahabat itu gak ada putusnya. Bahkan, kalian lebih dari Rendi.” Gita kembali lesu mengingat nama Rendi. Pernyataan itu membuat goresan pada hati Rava. Tapi Rava menyadari, hati Gita hanya untuk sahabatnya Rendi.
“gue juga sayang ama lo git.” ujar Dera memeluk Gita.
 “ iya, lebih baik kita bersahabat. Karna dengan bersahabat, kita bisa selalu deket dan gak ada putusnya.” Senyuman di bibir Rava kembali merekah.
“oh ya, ngomong-ngomong, sejak kapan lo ada rasa ama Gita rav? Ciee” goda Dera. “ah, gak usah dibahas deh.” Ujar Rava seraya berjalan keluar.
Di ambang pintu UKS, ia terkejut melihat Rendi bersama Tania sedang berbincang-bincang di sebuah bangku taman sekolah dengan asiknya. Lalu dia menghampirinya.
 “hai ren? Asik ni ngobrolnya?” ucapnya.
“hai rav, iya nih. Kadang sampe lupa waktu ngobrolnya, maklum temen lama yang kepisah.”sahut Randy
“iya nih, oh ya rav mau cemilan?” ujar Tania menyodorkan sebuah snack di tangannya..
 “gak usah tan, thanks. Oh ya rav, emang lo gak ngerasa kehilangan sahabat karena nemuin Tania gitu? Trus,lo tahu Gita dimana? Gue lihat, dia gak berangkat ama lo?” tanya Rava, sontak Rendi terkejut.
“Gita? Iya, dari kemaren-kemaren dia juga jarang bareng gue. Mungkin, dia belom datang kali.”
“jadi, lo bener-bener gak tahu dia dimana?” tanya Rava sekali lagi. Rendi hanya mengangkat bahunya. Lalu Rava pergi meninggalkan mereka ke ruang UKS. Mata Rendi dan Tania dengan tanda tanya besar di kepalanya mengikuti punggung Rava yang mulai menghilang.

“git, tadi kamu berangkat ama siapa?” tanya Rava.
“emh, sama pak Ujang. Emang kenapa rav?” tanya Gita. Lalu Rava menduduki kursi di sebelah tempat tidur Gita.
 “Sebenernya kamu sama Rendi ada apa sih? Atau, kamu pucet kayak gini gara-gara Rendi ya? Wah, bener-bener ngelanggar janjinya nih anak. Perlu di kasih pelajaran!” Ujar Rava sembari berdiri dan mengepalkan tangannya.
“Rav, jangan. Nanti aku jelasin!” ucap Gita menggenggam lengan Rava sembari menatapnya dengan tatapan iba. Rava yang melihat air mata di pelupuk mata Gita segera mengurungkan niatnya. Lalu, Gita menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Rendi.
Di bawah langit sore sebuah taman kota, rambut Gita tergerai indah seiring angin berhembus.
“der, lihat deh awan itu!” ujar Gita menunjuk sebuah awan putih dilangit yang terkena semburat jingga karena matahari.
“kenapa git?” tanya Dera.
“ bentuknya indah ya. Andai kehidupan gue seindah warna-warna jingga itu. Pasti gue gak akan kayak gini.” Ucap Gita. Dera sedikit menundukkan kepala dari posisi melihat awan karena ucapan Gita.
 “Kalo gue boleh milih der, gue lebih milih pergi ke tempat bunda sekarang.” Lanjut Gita. Sontak Dera terkejut mendengarnya.
“ngomong apaan sih lo git, gue gak mau lo ngomong gitu lagi. Kalo lo pergi, apa lo gak mikir siapa yang bakal sedih karena lo? Semua orang sayang lo git, bokap lo,nyokap lo, gue, Rava bahkan Rendi. Semua orang akan ngerasa kehilangan lo.” Ujar Dera seraya memeluk Gita.
“thanks ya der, gue agak tenang.” Senyuman merekah di bibir Gita. Lalu mereka segera meninggalkan taman karena matahari mulai pergi ke peraduan.
Pagi ini, Gita datang dengan keadaan lebih parah dari sebelumnya. Muka pucat, tak ada senyuman, tak ada warna jingga yang biasa menyegarkannya, kini hanya warna putih yang menjadi pelengkap. Saat ia tengah menyusuri koridor menuju kelasnya, tanpa sengaja Rendi melihatnya dengan sedikit terkejut, karna keadaannya tak seperti biasa. Sontak Rendi berlari menghampairinya dan meninggalkan Tania yang sedari tadi mengobrol dengannya tanpa permisi.
 “git, lo kok pucat? Lo sakit?” Gita tak menghiraukan ucapan Rendi dan terus berjalan.
 “gue baru ingat, waktu di toko buku lo tiba-tiba ngilang, gue cuman nemuin sapu tangan lo yang berlumuran darah. Lo kenapa git?”
 “gue gak papa!” jawab Gita singkat. “ lo nyembunyiin sesuatu ya?” tanya Rendi, tiba-tiba langkah Gita terhenti dan memalingkan mukanya menatap Rendi.
 “apa sih peduli lo?” ujarnya     “gue kan sahabat lo git!”sahut Rendi
 “sahabat? Apa ini namanya sahabat? Kemana lo saat gue butuh?”  ujar Gita tak kuasa menahan air mata yang membendung di pelupuk matanya. Ini pertama kalinya Rendi melihat air mata Gita karenanya.
 “maafin gue git, gue sadar udah jadi sahabat lo yang buruk. Maaf git.” pinta Rendi . “Rendi, lo kok ninggalin gue sih? Kita balik yuk.” Ujar Tania menghampiri mereka.
 “he, maaf? Baru minta maaf udah bikin kesalahan. Urusin tuh temen lama lo!” sambar Gita sembari mendorong tubuh Rendi dan berlalu dari tempat mereka. Rendi terngangah mendengar ucapan Gita.
 “ren, yuk nonton anak-anak basket lagi.” Ajak Tania manja membuyarkan lamunan Rendi.
“apaan sih lo? gue capek tau ngikutin mau lo, sampe-sampe gue harus nyuekin Gita. Sekarang terserah mau lo apa. Yang jelas jangan ganggu gue lagi!” Ujar Rendi dan ia segera berlalu meninggalkan Tania. Dari kejauhan, Rava segera berlari menghampiri Rendi dan menjelaskan sesuatu yang menimpa Gita.
setelah kejadian itu, saat jam istirahat Gita putuskan untuk menenangkan diri di bawah pohon besar yang rindang tempat ia biasa. Ia memandang langit biru dan berkata ‘Tuhan, jika boleh hamba meminta, bawalah Gita ke tempat bunda. Bawalah hamba pergi dari dunia yang kejam ini. Bersama butiran embun pagi, bersama gurgurnya dedaunan.’ Ucap Gita lirih. Rendi mendengar ucapan Gita di balik pohon dengan genangan air mata. Lalu Rendi mendekat, ia hapus air mata yang mengalir di pipi Gita dengan saputangan berwarna orange bertuliskan ‘ Gita Matahari’ pemberian Rendi untuk Gita.
“gue gak akan biarin air mata lo jatuh karena keputus asaan, menangislah karena suatu hal yang membuat lo bahagia.” Ucap Rendi menghapus air mata Gita. Sontak Gita terkejut.
 “Rendi.” Ujar Gita.
“Maafin gue git, maaf. Gue buta karena Tania. Gue jahat, gue orang paling bodoh yang nyia-nyiain gadis sebaik lo. Maaf git.” Ucapnya menundukkan kepala sembari menggenggam tangan Gita.
 “apa itu dari hati lo yang tulus ren? ” sontak Rendi mengangkat kepalanya kembali. “gue nggak butuh pengakuan dari lo, gue ngaak butuh belas kasihan, gue hanya butuh lo. Sahabat gue.” Rendi menatap sorotan mata yang penuh harapan dan arti itu. Beberapa detik kemudian, darah segar mengalir dari hidung Gita. Spontan Rendi terkejut melihatnya. “Gita!” ucapnya. Gitapun berusaha menutupi kelemahannya.
“Ren, lo gak usah khawatir, gue baik-baik aja kok.” Ucap Gita seraya menghapus darah itu dari hidungnya.  Beberapa detik kemudian, Gita tak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya, dan ia jatuh pingsan dalam pelukan Rendi “Gita!!” teriaknya. Segera Rendi membopong Gita ke dalam taxi dan segera menuju rumah sakit. Rava dan Dera tak kuasa menahan kesedihan yang dialami Rendi dan Gita.
 Kini Gita berbaring lemah di rumah sakit dengan keadaan kritis. Rendi dengan setia menungguinya.
“kamu gak pulang ren,? Semalem kamu kan udah nungguin Gita, jadi biar om sendiri yang jagainnya, besok kamu kan harus sekolah!” ujar pak Hendrawan.
“enggak papa kok om. Besok Rendi berangkat sekolah, terus balik lagi kesini. Rendi gak mau saat Gita butuh, Rendi malah gak ada disamping Gita.” Jawab Rendi.
“iya om ngerti,tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu ya.” Ucap pak Hendrawan.
“iya om, pasti.” Jawabnya singkat. Lalu Pak Hendrawan meninggalkan Rendi dengan Gita. Saat Rendi membawa Gita ke rumah sakit, Rendi menemukan sebuah diary mungil yang pernah ia lihat di tangan Gita. Awalnya ia ragu untuk membacanya, tapi hati dan nalurinya menyuruhnya untuk membukanya agar ia tahu apa yang dialami Gita selama ini. Dia membaca satu persatu untaian kata dengan genangan air mata di pelupuknya. Hingga sebuah bait yang membuat Rendi merasa bersalah.

‘Bunda, terkadang Gita berfikir dunia ini tak berpihak pada Gita. Pemvonisan kanker otak pada Gita membuat Gita ingin mengakhiri hidup. Tapi Gita tak sanggup meninggalkan Rendi dan ayah. Karena merekalah kekuatan Gita di dunia bunda. Bunda, mengapa sakit ini datang disaat sahabat Gita berpaling meninggalkan Gita? Bunda, terkadang arti sayang Gita kepada Rendi sulit diartikan. Apalagi, setelah kedatangan Tania di kehidupan Gita. Tapi Gita tak meminta lebih. Karna Gita sadar, itu tak mungkin. Gita hanya selalu berharap, Rendi dapat menjadi sahabat Gita selamanya..’
               Aktivitas Rendi terhenti dengan kedatangan Rava dan Dera.
“ren, gimana keadaan Gita?” Tanya Dera.
 “gue hanya bisa berdoa dan memberinya semangat untuk terus berjuang melawan penyakitnya.” Ujar Rendi. Beberapa saat kemudian, dia melihat tangan Gita bergerak, dan perlahan mulai membuka matanya.
“Gita!” ujar Rendi tak percaya. Segera ia memanggil pak Hendrawan.
 “Gita, sayang kamu sudah siuman nak. Terimakasih Ya Tuhan.” Ucap pak Hendrawan syukur. “Ayah, terimakasih, ayah udah jadi ayah sekaligus bunda yang sangat baik buat Gita, ayah hebat. Ayah relakan apapun demi Gita, maaf  kalo selama ini Gita selalu bikin ayah marah, kesel. Maafin Gita ya yah” Ucap Gita perlahan seraya tersenyum dan menangis. “Rava, Dera makasih kalian udah ngejagain gue, kalian udah berkorban buat gue. Dan maafin kalo gue punya salah ama kalian. Gue sayang kalian, dan Rendi, satu kata, gue sayang lo sahabat gue yang terbaik. Maaf kalo gue bikin lo cemas, gue sayang lo ren!”
“Git, kita semua sayang banget ama lo. lo ber..” ucapan Rendi terhenti saat melihat mata Gita perlahan meredup, dan tertutup rapat. Rendi merasa menyesal mengapa tak dari dulu menyadari perasaan Gita. Kini semua terlambat, Rendi harus merelakan Rigita Camelia Dinata pergi untuk selama-lamanya.
Kini hari-hari Rendi terasa seperti kertas putih tanpa warna. Sepi, tanpa canda tawa Gita. Beberapa Foto dirinya bersama Gita dan sebuah diary mungil menjadi pendamping di kala dia merindukan Gita. Namun, kini ada Rava dan Dera yang memupuk hal yang baru untuk Rendi.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar